Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2014

Cermin dari Seorang Sahabat


Kota Hujan, 28 Oktober 2014

Sore itu, hujan turun cukup deras. Aku dan dua orang sahabat menanti hujan reda sambil menikmati makan siang yang sangat terlambat.
Tapi kami tetap menikmatinya, meski perutku sudah sedikit mual karena terlambat makan. 
Salah satu sahabatku, terlihat sedikit pucat. Memang sejak kemarin dia mengeluh sudah tidak enak badan. 
Wajar saja, karena cuaca yang berubah-ubah, sehingga kondisi tubuh kita lebih sering terserang penyakit. 
Selain itu, mungkin karena dia masuk angin akibat perjalanan jauh yang harus dia tempuh pulang pergi menuju kampus. 
Aku yang sama-sama mengendarai motor dengan jarak rumah menuju kampus lebih dekat dibandingkan dia saja, sering kali masuk angin.
Aku sangat kagum pada dua sahabatku ini.. Meski mereka cukup lelah melakukan aktivitas sebelum kuliah yaitu mengajar, tetapi senyum tak pernah lepas dari bibir mereka. Kadang aku malu, aku mungkin tak selelah mereka, tapi kalau tidak mood sedikiiit saja, pasti bawaannya pengen cemberut.

Ah, aku memang harus terus berkaca pada orang-orang disekitarku.. Banyak sekali hal-hal yang belum aku pahami sepenuhnya..
Bahkan tentang kesetiaan mereka-pun sangat aku acungi jempol. 

Ketika hujan mulai sedikit reda, kami memutuskan untuk pulang. Meski dengan jaket seadanya, kami nekat saja.. Karena langit sudah semakin gelap, teringat kekhawatiran orang tua jika kami pulang terlalu malam. 

Karena hujan masih terus turun, aku memutuskan untuk memakai jaket sekaligus menutup tas, sehingga punggungku terlihat agak menggelembung. Aku bertanya pada dua sahabatku itu, apakah ini terlihat aneh? 
"Nggak kok, nggak.." begitu jawab mereka sambil tertawa kecil. Meski sebenarnya aku tahu mereka berbohong untuk meyakinkan aku. 
"Ahh, yang bener?" Tanyaku lagi untuk lebih meyakinkan.
Dan masih sama saja jawaban mereka. Ah, sudahlah biarkan saja sekali ini, aku terlihat aneh. Memang sebelumnya gak aneh ya? hehehe

Akhirnya aku dan sahabatku mengendarai motor masing-masing. Biasanya dia selalu berada di depan motorku, tapi kali ini, aku yang lebih dulu. 
Aku terus saja melihat ke arah spion, memperhatikan dia yang sedang tertawa-tawa. 
Huhh.. pasti dia tertawa melihat bentuk anehku dari belakang. 
Aku pura-pura ngambek, ketika motornya bersisian denganku. 
Tapi gelak tawanya malah membuatku ikut tertawa, menertawakan kekonyolan kita. 

Alhamdulillaah.. aku sangat menikmati hujan dan keberkahannya. 

Setiap kali aku tertinggal agak jauh, biasanya mereka menungguku di pinggir jalan, kemudian ketika melihatku, melanjutkan perjalanan bersama.
Mungkin hal ini sering orang-orang lakukan, tapi ketika konvoi atau rombongan. 
Tapi hal ini, selalu aku rasakan ketika pulang kuliah bersama mereka.. 

Indaah sekali yaa Rabb... 
Terima Kasih telah menghadiahkan mereka di kehidupanku...

Tapi, Sudahkah aku menjadi sahabat terbaik untuk mereka? 

Senin, 20 Oktober 2014

Tulisan: Mencari Cahaya


Pernahkah engkau membayangkan jika dalam kehidupan ini tidak ada cahaya? Gelap dan hampa rasanya. Pernahkah engkau berjalan ditengah gelapnya malam tanpa ada cahaya lampu sedikitpun yang menerangi langkah kakimu? Bingung, resah, takut, khawatir, dan mungkin bisa jadi engkau tersesat. Itu yang sekiranya akan kamu rasakan. Melangkah tiada pasti karena kebingungan mencari-cari, mencari arah, mencari tujuan, mencari tempat yang dituju. Kebingungan mencari jalan yang tepat, kebingungan kemana akan melangkahkan kaki ke jalan yang benar. Karena itu kamu pasti butuh cahaya, cahaya lampu yang akan menerangi sepanjang perjalananmu itu. Pernahkah kamu menemukan cahaya lampu yang redup atau bahkan hampir padam? Sesungguhnya cahaya lampu itu perlu diperbaiki, perlu dirawat agar tetap menyala terang.
Apakah kamu tahu apa itu cahaya didalam hatimu? Apakah kamu tahu apa itu cahaya yang ada dalam batinmu? Iya, itu adalah iman. Iman yang kamu tanamkan di dalam lubuk sanubarimu, iman yang akan melekat di dalam relung jiwamu. Iman yang akan membawamu ke jalan yang tepat. Mengapa iman? Sepanjang kamu percaya kepada Tuhan, sepanjang kamu menuju jalanNya, bahkan sepanjang iman itu kamu tanamkan sebagai akar serta pilar dalam hidupmu, kamu tidak akan pernah tersesat. Meski akan tiba suatu masa kamu akan kehilangan cahaya dalam dirimu, jika kamu mencariNya, jika kamu membenahi cahaya dalam relung jiwamu itu. Kamu pasti akan selalu berada dalam langkah yang benar, langkah yang diridhaiNya. Langkah yang akan menenangkan hati serta sanubarimu. Pernahkah kamu dapati imanmu sedang menurun atau bahkan kamu hampir merasa tersesat? Mungkin Tuhan sedang menguji imanmu itu. Karena sejatinya iman dalam hatimu itu layaknya seperti cahaya lampu, perlu untuk selalu dibenahi, perlu untuk selalu diperbaiki, dirawat, dan bahkan ditingkatkan.
Aku ingin mencari cahaya itu, mencari cahayaNya. Aku ingin melangkah menyusuri bumi menuju jalanNya mencari surgaNya. Maukah kamu menemaniku mencarinya? :)
Bogor, 19 Oktober 2014
Fikratus Sofa Muzakkiya

#reposted

Selasa, 14 Oktober 2014

Tulisan : Mempertanyakan Hidup Kita Sendiri


Kita tidak tahu apa-apa tentang hidup orang lain, sebagaimana orang lain sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang hidup kita. Bahkan sebenarnya kita tidak benar-benar tahu tentang hidup kita sebanyak pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikiran kita tentang hidup kita sendiri.

Jawaban-jawaban atas pertanyaan itu pun tidak serta merta ada seketika kita bertanya. Ada waktu yang harus dilepaskan, ada tenaga yang harus dikeluarkan, ada keresahan yang harus dirasakan, ada ketakutan yang harus di hadapi. Demi sebuah jawaban.

Pertanyaan-pertanyaan kita atas hidup kita sendiri semakin membuat khawatir hari demi hari. Seperti menumpuk sebuah masalah padahal tidak asal kita terus melangkah. Kita tidak akan mendapatkan apapun jika kita berdiam diri.

Pertanyaan yang membuat makan kita hilang rasa, membuat tidur kita terbangun, membuat keceriaan kita seketika bungkam. Pertanyaan yang mendatangkan resah. Tapi, siapa sangka keresahan itu membuat doa-doa kita semakin dalam, semakin tulus, terasa lebih dekat kepada Tuhan.

Tidak semua nikmat itu dalam bentuk kebahagiaan. Itu yang aku pahami. Nikmat serupa kekhawatiran pun bisa kita syukuri bila kita paham bahwa kekhawatiran itu benar-benar membuat kita lebih dekat kepada Tuhan. Seolah-olah tidak ada lagi daya yang bisa kita lakukan dan hanya kepada-Nya kita menggantungkan segala bentuk jawaban.

Pertanyaan-pertanyaan hidup kita tentang esok hari, tentang pasangan hidup seperti apa yang akan mendampingi kita, tentang karier, tentang rejeki, bahkan tentang hidup setelah mati. Setidaknya kita jangan berhenti, karena langkah kaki kita akan memperdekat kita kepada semua jawaban dari pertanyaan itu.

Esok kita akan bertemu dengan orang yang akan mendampingi kita, esok kita akan tahu berapa jumlah anak kita, esok kita akan tahu kita bekerja dimana, esok kita akan mengingat hari ini, bahwa pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada jawabnya.

Bandung, 17 September 2014 | (C)kurniawangunadi

#repost #reminder #muhasabah

Senin, 13 Oktober 2014

Raindrops


Bismillah..

Raindrops.. peristiwa-peristiwa dalam hidup ini, ibarat tetes-tetes air hujan.

Ada yang menetes dengan lembut, seperti gerimis yang dirindukan banyak orang, bahkan dua orang pasangan untuk menggambarkan suasana romantis.

Ada yang menetes dengan derasnya, ini sih namanya udah bukan tetesan ya.. tapi gerombolan, hehehe

Ya, begitulah tetes air hujan. Ia menjatuhkan dirinya dengan berbagai cara, begitupun peristiwa dalam hidup kita, Allah menurunkan suka-duka-gelisah-bahagia-bimbang-rindu-cinta dan lain-lain. Semuanya kadang Allah hadirkan dalam satu waktu secara bersamaan, seperti derasnya tetes air hujan, tapi kadang juga Allah hadirkan salah satunya perlahan-perlahan.

Ada kalanya manusia bersyukur dengan kehadiran berbagai macam rasa, karena ia tahu, Allah cinta. Allah ingin meningkatkan derajat keimanannya.
Tapi ada kalanya juga, manusia tidak bersyukur dengan satu rasa saja yang Allah berikan. Padahal boleh jadi hal itu baik untuk kita.

Hujan tidak akan pernah turun dengan segala keindahannya, tanpa satu tetes saja air hujan yang turun. Bahkan pelangi yang indah pun mungkin tak akan pernah ada jika setetes air hujan dari langit tak pernah jatuh.

Hidup mengajarkan kita untuk menerima, dari yang sedikit lalu bersyukur, maka Allah akan tambahkan nikmat..

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)


sebuah prolog, dari seorang yang menyukai hujan, dan setiap tetesan airnya ... 
terima kasih Ya Allah, karena setiap apa yang Engkau ciptakan, dapat memberi inspirasi dan menambah rasa syukur manusia, khususnya aku.. semuanya sungguh tak ada yang sia-sia, kalau saja kita mau sedikit saja memberikan waktu kita untuk memikirkannya. 


Setiap tetes hikmah yang Engkau beri dalam hidupku, mengajarkanku bahwa orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku, memberikan banyak nasihat dan hikmah. Aku tidak ingin menyimpannya sendiri, izinkan aku berbagi disini, berbagi tentang segala kuasa dan keindahan-Mu dan ciptaan-Mu...




Thanks for everybody who's being a part of my life. 
Thanks a lot for everything. 
I just can say that, because only Allah who able to return all of your kindness.

sister, brother... who's ever being so close with me or just know me briefly. I do apologize in every single mistakes both my attitudes and words since I was be a part of your life. please forgive me with all of your kindness.. 
all the things that occured, purely because of my poor maturity and I am not a wise person. once more, thanks a lot ^_^ 

ALLAH, I really trust on YOU. If it is good for me, give me the way to keep on it, but if it isn't good for me, give me more conviction on my heart to You.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bismillah, 
GOD.. I want to be a better person everytime.
GOD.. I want to have a succes life.
GOD.. I want to finished my study in college smoothly.

Those are my promises and those are my prays..


Aamiiin Yaa Rabbal 'Alamin...

Jumat, 03 Oktober 2014

Ada Waktunya Nanti..


#ReminderToMySelf
that's ! 

Tulisan : Mereka yang Belajar dari Kesalahan



Pada saat menjalani kehidupan kita masing-masing. Mungkin kita pernah berselisih dengan seseorang. Pernah menyimpan kekesalan dan kekecewaan. Pernah merasa dikhianati atau ditinggalkan tanpa alasan. Pernah dibohongi bahkan mungkin dijauhi. Hingga hubungan kita dengan orang tersebut sempat hilang beberapa lama, mungkin dalam hitungan tahun.
Dulu sewaktu muda terutama. Sewaktu emosi masih pada tahap pematangan. Sewaktu pikiran belum sepenuhnya berpijak. Sebelum kebijaksanaan hidup menghampiri. Sewaktu logika masih pendek. Sewaktu perasaan masih mendominasi.
Hingga pada suatu ketika, direntang waktu yang cukup lama kita kembali dipertemukan dengan orang-orang tersebut. Sejatinya kita tidak lagi benci, hanya sungkan saja ingin menyapa. Ada perasaan tidak enak. Ada perasaan enggan.
Saya percaya bahwa waktu turut mengubah seseorang. Orang yang dulu berbuat tidak baik kepada kita telah berubah. Orang yang dulu meninggalkan kita telah berubah. Orang yang dulu menyakiti kita telah berubah. Banyak yang telah menjadi orang baik, diantara mereka banyak yang telah menjadi bijaksana. Diantara mereka banyak yang telah mencapai banyak hal sementara kita sendiri tertinggal jauh.
Haruskah kita tetap membencinya? Mungkin perasaan ini bukanlah benci, hanya enggan untuk menyambung silaturahmi. Atau mungkin malu mengakui bahwa kita telah memaafkannya dan memulai silaturahmi.
Mereka adalah orang-orang yang berhasil belajar dari kesalahan. Kita tidak lagi bisa menyamakan mereka dengan beberapa tahun belakangan. Ketika dulu mereka membuat kesalahan, terutama kepada kita. Mereka adalah orang-orang yang berhasil keluar dari pikiran mereka tentang masalahnya. Bergerak sedemikian cepat untuk memperbaiki diri. Sementara kita mungkin masih menyimpan dengki, membuat kita terkurung pada prasangka tersebut dan menjadi lamban bergerak.
Harus kita akui. Memang mereka memiliki kesalahan kepada kita di masa sebelumnya. Ketika kita masih sama-sama muda, sama-sama emosional. Dan mereka telah belajar dari kesalahan sehingga membentuk mereka yang seperti sekarang. Begitu mengagumkan. Dan kita sungguh tidak bisa menilai mereka hanya karena kesalahannya di masa lalu kepada kita.
Ketika kita mampu menyadari itu semua. Kita telah belajar menjadi selangkah bijaksana. Memaafkan dan mengakui bahwa kita tidak belajar lebih banyak dari mereka. Dan kita tertinggal beberapa langkah.
#Repost from #‎KurniawanGunadi

Tak Perlu Iri ^_^


"Enggak perlu iri dengan kemudahan yang didapatkan oleh orang lain, Sayang. Kalaupun mau iri, irilah pada mereka yang bisa bertahan dalam kesulitan. Kemudahan bisa dimiliki siapa saja. Allah yang Maha Adil sudah menjatahkan kita kemudahan di urusan yang berbeda-beda. Mungkin dalam hal ini, itu memang bukan jatah kamu untuk mendapatkannya. Hidup ini berputar kan, begitu juga dengan kemudahan dan kesulitan. Kitanya aja yang suka lupa, makanya suka ngeluh kalau dikasih kesulitan. Padahal kesulitan dan kemudahan itu adalah keniscayaan dalam hidup. Selalu akan kita temui. Hanya menunggu giliran saja. Kalau enggak dikasih kesulitan, gimana caranya kita belajar sabar, gimana bisa kita menjadi kuat. Kesabaran dan kekuatan itulah yang akan didapatkan oleh mereka yang bisa bertahan dalam kesulitan, bukan mereka yang bersuka cita dalam kemudahan.”
“Percayalah, Allah selalu berpihak pada orang-orang yang sabar, Sayang. Jadi bersabarlah atas segala kesulitan, sabar dengan sebaik-baiknya kesabaran, niscaya Allah akan memaniskan akhirnya. Kalaupun kita diberi kemudahan, cukup kita simpan dalam ruang syukur kita saja, sebagai ungkapan terimakasih atas kebaikan dan pertolangan Allah. Atau jika berksempatan, terjemahkanlah terimakasih itu dengan turut memudahkan urusannya orang lain.”
#‎Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar

#Repost #ReminderToMySelf

Rabu, 20 Agustus 2014

Kuasai Kecerdasan Emosi Anda


Tulisan ini juga adalah email rutin dari Anne Ahira, dan karena isinya bagus-bagus banget, sayang kalo dibaca sendiri, jadi aku share lagi di blogku.. tanpa mengurangi atau menambahi tulisan aslinya. 


Ditulis oleh: Anne Ahira 

"Siapapun bisa marah. Marah itu mudah.
Tetapi, marah pada orang yang tepat,
dengan kadar yang sesuai, pada waktu
yang tepat, demi tujuan yang benar, dan
dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah."

-- Aristoteles, The Nicomachean Ethics.

Mampu menguasai emosi, seringkali orang
menganggap remeh pada masalah ini.
Padahal, kecerdasan otak saja tidak
cukup menghantarkan seseorang mencapai
kesuksesan.

Justru, pengendalian emosi yang baik
menjadi faktor penting penentu
kesuksesan hidup seseorang.

Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran
mental dari seseorang yang cerdas dalam
menganalisa, merencanakan dan
menyelesaikan masalah, mulai dari yang
ringan hingga kompleks.

Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa
memahami, mengenal, dan memilih
kualitas mereka sebagai insan manusia.
Orang yang memiliki kecerdasan emosi
bisa memahami orang lain dengan baik
dan membuat keputusan dengan bijak.

Lebih dari itu, kecerdasan ini terkait
erat dengan bagaimana seseorang dapat
mengaplikasikan apa yang ia pelajari
tentang kebahagiaan, mencintai dan
berinteraksi dengan sesamanya.

Ia pun tahu tujuan hidupnya, dan akan
bertanggung jawab dalam segala hal yang
terjadi dalam hidupnya sebagai bukti
tingginya kecerdasan emosi yang
dimilikinya.

Kecerdasan emosi lebih terfokus pada
pencapaian kesuksesan hidup yang
*tidak tampak*.

Kesuksesan bisa tercapai ketika
seseorang bisa membuat kesepakatan
dengan melibatkan emosi, perasaan dan
interaksi dengan sesamanya.

Terbukti, pencapaian kesuksesan secara
materi tidak menjamin kepuasan hati
seseorang.

Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang
juga dikenal dengan sebutan "EQ"),
dikenalkan melalui pasar dunia.

Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang
untuk mengatasi dan menggunakan emosi
secara tepat dalam setiap bentuk
interaksi lebih dibutuhkan daripada
kecerdasan otak (IQ) seseorang.

Sekarang, mari kita lihat, bagaimana
emosi bisa mengubah segala keterbatasan
menjadi hal yang luar biasa....

Seorang miliuner kaya di Amerika
Serikat, Donald Trump, adalah contoh
apik dalam hal ini. Di tahun 1980
hingga 1990, Trump dikenal sebagai
pengusaha real estate yang cukup
sukses, dengan kekayaan pribadi yang
diperkirakan sebesar satu miliar US
dollar.

Dua buku berhasil ditulis pada puncak
karirnya, yaitu "
The Art of The Deal
dan Surviving at the Top"
. Namun jalan
yang dilalui Trump tidak selalu
mulus...

Nenden ingat depresi yang melanda dunia
di akhir tahun 1990? Pada saat itu
harga saham properti pun ikut anjlok
dengan drastis. Hingga dalam waktu
semalam, kehidupan Trump menjadi sangat
berkebalikan.

Trump yang sangat tergantung pada
bisnis propertinya ini harus menanggung
hutang sebesar 900 juta US Dollar!
Bahkan Bank Dunia sudah memprediksi
kebangkrutannya.

Beberapa temannya yang mengalami nasib
serupa berpikir bahwa inilah akhir
kehidupan mereka, hingga benar-benar
mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri.

Di sini kecerdasan emosi Trump
benar-benar diuji. Bagaimana tidak,
ketika ia mengharap simpati dari mantan
istrinya, ia justru diminta memberikan
semua harta yang tersisa sebagai ganti
rugi perceraian mereka.

Orang-orang yang dianggap sebagai teman
dekatnya pun pergi meninggalkannya
begitu saja. Alasan yang sangat
mendukung bagi Trump untuk putus asa
dan menyerah pada hidup. Namun itu
tidak dilakukannya.

Trump justru memandang bahwa ini
kesempatan untuk bekerja dan mengubah
keadaan. Meski secara finansial ia
telah kehilangan segalanya, namun ada
"intangible asset" yang tetap
dimilikinya.

Ya, Trump memiliki
pengalaman dan
pemahaman
bisnis yang kuat, yang jauh
lebih berharga dari semua hartanya yang
pernah ada!

Apa yang terjadi selanjutnya?

Fantastis, enam bulan kemudian Trump
sudah berhasil membuat kesepakatan
terbesar dalam sejarah bisnisnya.

Tiga tahun berikutnya, Trump mampu
mendapat keuntungan sebesar US$3
Milliar. Ia pun berhasil menulis
kembali buku terbarunya yang diberi
judul
"The Art of The Comeback".

Dalam bukunya ini Trump bercerita
bagaimana kebangkrutan yang menimpanya
justru menjadikannya lebih bijaksana,
kuat dan fokus daripada sebelumnya.

Bahkan ia berpikir, jika saja musibah
itu tidak terjadi, maka ia tidak akan
pernah tahu teman sejatinya dan tidak
akan menjadikannya lebih kaya dari yang
sebelumnya. Luar biasa bukan? :-)

Kecerdasan Emosi memberikan seseorang
keteguhan untuk bangkit dari kegagalan,
juga mendatangkan kekuatan pada
seseorang untuk berani menghadapi
ketakutan.

Tidak sama halnya seperti kecerdasan
otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir
pada setiap org &
bisa dikembangkan.

Berikut beberapa tips bagaimana cara
mengasah kecerdasan emosi:


1. Selalu hidup dengan keberanian.
    Latihan dan berani mencoba hal-hal baru

    akan memberikan beragam pengalaman dan
    membuka pikiran dengan berbagai
    kemungkinan lain dalam hidup.
 


2. Selalu bertanggung jawab dalam segala hal.
    Ini akan menjadi jalan untuk bisa
    mendapatkan kepercayaan orang lain dan
    mengendalikan kita untuk tidak mudah
    menyerah.
"being accountable is being
    dependable"


3. Berani keluar dari zona nyaman.
    Mencoba keluar dari zona nyaman akan
    membuat kita bisa mengeksplorasi banyak
    hal.
 

4. Mengenali rasa takut dan mencoba untuk menghadapinya.
    Melakukan hal ini akan membangun rasa
    percaya diri dan dapat menjadi jaminan
    bahwa segala sesuatu pasti ada
    solusinya.
 


5. Bersikap rendah hati.
    Mau mengakui kesalahan dalam hidup
    justru dapat meningkatkan harga diri
    kita.

So, kuasailah kecerdasan emosi Nenden!

Karena mengendalikan emosi merupakan
salah satu faktor penting yang bisa
mengendalikan Nenden menuju sukses dan
juga menikmati warna-warni kehidupan. :-)

Hargai Apa Yang Kita Miliki

Tulisan ini, adalah email rutin dari Anne Ahira, dan karena isinya bagus-bagus banget, sayang kalo dibaca sendiri, jadi aku share lagi di blogku.. tanpa mengurangi atau menambahi tulisan aslinya. 

Ditulis oleh: Anne Ahira

Nenden,

Pernahkah Nenden mendengar kisah Helen Kehler?
Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan
dalam kondisi buta dan tuli.

Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa
membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dlm
kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.

Tidak ada seorangpun yang menginginkan
lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya
Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan
memilih untuk lahir dalam keadaan normal.

Namun siapa sangka, dengan segala
kekurangannya, dia memiliki semangat hidup
yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang
legendaris.

Dengan segala keterbatasannya, ia mampu
memberikan motivasi dan semangat hidup
kepada mereka yang memiliki keterbatasan
pula, seperti cacat, buta dan tuli.

Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti
dirinya mampu menjalani kehidupan seperti
manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit
dilakukan.

Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah
diucapkan Helen Kehler:

   
"It would be a blessing if each person
     could be blind and deaf for a few days
     during his grown-up live. It would make
     them see and appreciate their ability to
     experience the joy of sound".


Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah
bila setiap org yang sudah menginjak dewasa
itu mengalami buta dan tuli beberapa hari saja.

Dengan demikian, setiap orang akan lebih
menghargai hidupnya, paling tidak saat
mendengar suara!

Sekarang, coba Nenden bayangkan sejenak....

......Nenden menjadi seorang yang buta
dan tuli selama dua atau tiga hari saja!

Tutup mata dan telinga selama rentang waktu
tersebut. Jangan biarkan diri Nenden melihat
atau mendengar apapun.

Selama beberapa hari itu Nenden tidak bisa
melihat indahnya dunia, Nenden tidak bisa
melihat terangnya matahari, birunya langit, dan
bahkan Nenden tidak bisa menikmati musik/radio
dan acara tv kesayangan!

Bagaimana Nenden? Apakah beberapa hari cukup berat?
Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?

Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja,
bahwa betapa sering kita terlupa untuk bersyukur
atas apa yang kita miliki. Kesempurnaan yang ada
dalam diri kita!

Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah
keluhan demi keluhan.... Hingga tidak pernah
menghargai apa yang sudah kita miliki.

Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki merupakan
kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati
oleh orang lain.  Ya! Kemewahan utk orang lain!

Coba Nenden renungkan, bagaimana orang yang
tidak memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah
kemewahan yang luar biasa baginya.

Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia
diijinkan bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin
akan mampu melakukan banyak hal, termasuk
membuat sebuah tulisan yang menarik.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita
mampu menghargai apa yang kita miliki, hal-hal
yang sudah ada dalam diri kita, tentunya kita akan
bisa memandang hidup dengan lebih baik.

Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah!
Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif
dan menjadi seorang manusia
yang lebih baik

Saat Hati Gelisah Tanpa Sebab

Saat hati gelisah tanpa sebab..
percayalah, sebetulnya.. pasti ada sebabnya. Hanya saja, mungkin kita tidak sadar, apa itu. Air bisa membeku, karena suhu udara yang sangat rendah di sekitarnya. Cicak bisa memutus ekornya, karena bahaya pemangsa menyentuh tubuhnya. Manusia bisa menangis, karena perasaan yang kuat telah mendorong kelenjar air mata untuk memproduksi air mata. Maka hati bisa gelisah, pastilah ada penyebabnya.

Saat hati gelisah tanpa sebab..
jangan jauh-jauh lihat ke luar diri. Ini kebiasaan yang keliru, karena mencari penyebab dari luar diri, secara tidak langsung telah menempatkan diri kita di posisi korban. Ya, seakan-akan suatu hal buruk yang terjadi pada diri kita adalah sebuah akibat dari sesuatu di luar diri. Padahal, saat kita merasa sebagai korban, solusi yang akan otomatis keluar adalah menuntut. Menuntut perbaikan dari hal-hal yang ada di luar diri. Dan inilah yang membuat kita seringkali kelelahan. Hey!! Sesuatu di luar diri kita tidak bisa kita kontrol. Maka menuntut hal dari luar diri, sama saja dengan menggantungkan harapan perbaikan pada sesuatu yang sama sekali tidak punya jaminan kepastian. Atau sama juga dengan meminta pertanggungjawaban pada sesuatu yang belum tentu mampu bertanggungjawab. 

Jadi kegelisahan hati, apa penyebabnya?
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri…” QS. An-Nisa (4): 79
Ya, penyebabnya adalah kesalahan diri sendiri.. Look inside, not outside! Dalam hal ini, menyalahkan diri sendiri itu perlu. Kenapa? Karena memang begitulah adanya. Dengan pemahaman ini, kita bisa jauuuh lebih bijaksana menempatkan diri kita di posisi pemeran utama atau pelaku, bukan lagi sebagai korban. Karena saat kita merasa sebagai pelaku, maka akan ada sikap yang muncul dari dalam diri untuk mengatasi segala hal tidak sesuai yang terjadi. Dengan ini, rasa tanggung jawab pun muncul. Kita paham bahwa haruslah diri yang turun menyelesaikan, tanpa menyalahkan orang lain.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk, maka (keburukan) itu bagi dirimu sendiri…” QS. Al Isra (17): 7
Pahamilah, kebaikan dan keburukan yang kita lakukan.. hanya akan kembali pada pelakunya. Siapa? Ya diri sendiri. Maka kegelisahan pun, siapa yang harus bertanggung jawab menyelesaikan? Diri sendiri. Kenapa? Tentu karena penyebabnya pun adalah diri sendiri, meski mungkin diri tak menyadari.

Saat hati gelisah tanpa sebab..
dan sudah ketahuan pula bahwa diri lah yang bertanggung jawab penuh atas penyelesaiannya, ketahuilah.. semua tak tuntas hanya sampai disitu. Ada kuasa yang jauh lebih besar, yang kita butuhkan untuk menyertai. Ya, kuasa dari penguasa langit dan bumi, juga sang penggenggam hati, Allah subhanahu wata’alla. Apa hubungannya hati gelisah dengan Allah?
 “Dia lah yang telah menurunkan ketenangan (sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada.” – QS. Al Fath (48): 4

Kita mencari penyebab hati gelisah, tentu karena kita ingin suasana hati kita berubah, kan. Berubah dari gelisah, menjadi sakinah. Dan ternyata.. yang bisa menurunkan rasa sakinah atau ketenangan hanyalah Allah. Tidak ada selain-Nya. Pemberiannya pun adalah hak prerogatif Allah. Maka ketika hati gelisah dan ingin diubah menjadi sakinah, solusinya adalah perbaiki hubungan dengan Allah. Karena sakinah hanya diturunkan ke dalam hati orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang di hatinya ada bibit keimanan. Dan orang yang di dalam hatinya ada keimanan, pastilah orang-orang yang memiliki hubungan yang baik dengan Allah.

Sederhananya, kalau hati sedang gelisah, cek! Pasti diri tersebut sedang jauh dari Allah. Sedang banyak lalainya, sedang beragam maksiatnya. Sumber utama kegelisahan hati adalah buruknya hubungan dengan Allah atau sedang jauh dari Allah. Karena itulah bisa jadi diri berbuat salah, kemudian kesalahan itu kembali pada diri sebagai pelakunya.
Pengundang rasa sakinah atau ketenangan adalah iman, hubungan yang baik dengan Allah. Dengan pemahaman ini, kita akan merasa aneh jika banyak orang merasakan gelisah, kemudian mencari-cari solusi selain-Nya, selain memperbaiki hubungan dengan Allah. Ada yang menginginkan ketenangan dengan pergi ke tempat-tempat sepi, melakukan ritual-ritual ini dan itu, atau mungkin juga dengan hura-hura. Tidak salah, hanya kurang tepat. Hal-hal tersebut bisa saja menenangkan, tapi tidak permanen. Ketenangan yang hakiki hanya akan diturunkan ke dalam hati orang-orang mukmin, yang dengan ketenangan tersebut, justru semakin mendekatkannya kepada Allah, menambah keimanan yang sudah ada.

Saat hati gelisah tanpa sebab..

Sadari bahwa penyebab hal itu pastilah diri sendiri, look inside not outside.

Perbaikilah hubungan dengan Allah.

Ingatlah dua hal ini.. apabila hati gelisah, tanpa sebab.

Salam sayang,

FA

dikutip dari blog cuapcuapdariaku.blogspot.com

Selasa, 19 Agustus 2014

Random Feeling

Pernah merasa kesal, bete, jenuh, ga semangat, dan perasaan negatif lainnya? 
Aku pernah. bahkan akhir-akhir ini sedang merasakan itu semua. Aku tau itu semua manusiawi, tapi terkadang suka kesel sendiri kenapa perasaan-perasaan negatif itu muncul dalam hati! 

Karena perasaan-perasaan negatif itu yang membuat kita jadi ga produktif, dan malah cuma bikin cape aja.

Alhamdulillah.. Allah masih mau menegurku dan aku selalu cepat tersadarkan, bahwa hidupku singkat, sayang kalo cuma dimanjakan dengan perasaan-perasaan negatif tadi. Yang aku lakukan ketika merasakan itu semua adalah beristighfar, mencari kesibukan2, cerita kepada orang terdekat, atau hunting foto. 
Sedih, ketika kemarin perasaan negatif hinggap cukup lama dihati.. entahlah.. mungkin karena ga ada kegiatan seharian kemarin.
benar-benar sedang ga menentu perasaannya. huhuhu

Semoga kalian yang membaca, tidak sepertiku ya... 
teruslah bersikap berpikir dan berpribadi positif, karena itu semua ga bikin kita rugi, justru membuat kita semakin kuat dan indah menjalani hidup.

Senin, 18 Agustus 2014

Kisah Inspiratif 1 Part 2 - END

Semakin hari, semakin sering aku dan Nana berkomunikasi. Nana butuh dukungan untuk mewujudkan kewajibannya ini. Meski hanya lewat alat komunikasi kedekatan aku dengannya justru semakin erat. Benarlah, jika ada yang mengatakan bahwa jarak dapat menciptakan ruang rindu yang tak terbatas. Melalui sms atau medsos, seakan ruang rindu kami tak terbatas. Inilah cinta yang dilandasi karena Allah. Saling mendukung dalam kebaikan. 

Alhamdulillah, sekitar 3 tahun yang lalu, Nana resmi menutup auratnya. dan aku pun disebut oleh ayahnya sebagai provokator hihi 
Ngga apa-apa kan klo provokatornya dalam kebaikan? :p 
Uhibbuki Fillah, Nana.. Aku disini siap membantumu menyokongmu dalam memulai hari pertamamu berhijab. 

Waktu berlalu, komunikasiku tak pernah terhenti dengannya. seringkali, ia mengeluhkan betapa sulitnya berhijab :( dicibir keluarga, teman kerja, dll.. Tapi, aku yakin Nana adalah wanita yang sangat kuat. Nana, semua yang pertama kali berhijab mengalami itu semua. Tapi, banyak sekali mereka yang bisa melaluinya, karena keyakinannya kepada Allah. 
dan, akupun yakin kamu bisa melaluinya sayang.. 

Ketika bertemu denganmu, betapa semakin kagumnya aku padamu. Kamu itu orang yang taat agama, kamu itu mau belajar, dan kamu mau berjuang untuk mempertahankan hijabmu. betapa perjuanganmu berat sekali dibandingkan aku ketika harus berhijab. Keluarga bisa mendukung, lingkungan mendukung, teman mendukung, alhamdulillah. 
tapi berbeda denganmu, kamu harus berjuang mempertahankan hijabmu, karena awalnya keluarga yang tak mendukung, lingkungan pekerjaan, teman dan lain-lain.
Masih ingat dalam benakku, kamu berangkat kerja menggunakan hijab, tapi ketika tiba di tempat kerja, harus membukanya :( sedih rasanya.. 
tapi dalam hatimu, menolak rutinitas ini. karena kamu, sudah begitu mantap untuk berhijab. tapi mungkin kamu juga takut kehilangan pekerjaanmu.

Tapi Nana sayang, masih ingatkah nasihat mamahku dulu? Rezeki kita sudah diatur, meski kamu harus keluar dari pekerjaan yang tak mendukungmu berhijab, nanti pasti Allah sudah siapkan rezeki yang lebih baik, jika kamu meninggalkan pekerjaan itu. Aku, mamah mendoakan dan mendukung kamu sayang... kamu ga sendirian. 

Setelah cukup lama, akhirnya kamu menemuiku, dan mengatakan bahwa kamu sudah resign dari tempat kerjamu. Alhamdulillaah, Allahu Akbar... 
Terima kasih yaa Allah telah menguatkan hati sahabatku Nana, dan memberikannya keyakinan bahwa Engkau selalu dekat dengannya. 

setelah resign, Nana sempat bingung harus bagaimana menjelaskan ini ke orangtuanya. 
akhirnya karena belum berani dan belum kuat untuk mengatakannya, Nana terus mencari pekerjaan yang bisa mendukungnya berhijab. 
sempat aku beri saran, buka saja usaha sendiri, karena dia punya kemampuan yang sangat potensial. Tapi, dia belum siap. 
Alhamdulillah, setelah cukup lama mencari, dan ketahuan orangtuanya kalo Nana sudah resign. Orangtuanya ikut membantu mencarikannya pekerjaan. dan lambat laun, orangtua Nana pun mulai paham dan mendukung segala keputusannya. 

dan sekarang, Nana sudah kembali bekerja, Alhamdulillaah.. di tempat yang sangaat mendukungnya berhijab. 
Nana sayang.. teruslah berjuang.. karena ujian kita takkan selesai sampai disini. 

orangtua sudah mendukung, lingkungan pekerjaan pun mendukung.. 
namun, tak ayal, ujian hidup selalu saja menghampiri kita. dan kamu adalah salah satu orang pilihan-Nya.. Allah sangaaat ingin menaikkan derajatmu sayang..
betapa kamu sudah cukup banyak bersabar dan berusaha selama ini, jangan khawatir, Allah mencatat semua kebaikanmu.

pesanku, 
semoga kamu terus bersabar hingga tak terbatas. 
meski hanya satu dua teman yang setia mendukungmu, tetaplah berjalan. karena itulah sebaik-baik teman untukmu. 
tetap tebar cinta dan sayang untuk orang-orang yang menyakiti hatimu. 
Jangan pernah merasa kalo kamu sendirian, ada aku, orangtuamu, mamahku, dan tentunya ALLAH yang tak pernah meninggalkanmu..

I LOVE YOU BECAUSE ALLAH, NANA..