Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Oktober 2014

Tahun Baru 1436 Hijriyah

Bismillah ... 

Alhamdulillaahi rabbil 'alamin..

Terima kasih Ya ALLAH.. Untuk setiap kesempatan yang Engkau berikan untuk kami, hingga masih bisa merasakan nikmat di tahun Baru Hijriyah... 

Terima kasih Ya ALLAH.. Untuk kesempatan bertaubat menjadi manusia yang terus lebih baik dari waktu ke waktu... meski seringkali yang kami lakukan adalah taubat sambel :'( tapi Engkau selalu dan selalu memberi kesempatan untuk kami..

Terima kasih Ya ALLAH.. Untuk kesempatan menikmati hidup dengan udara segar setiap pagi.. 

Terima kasih Ya ALLAH.. Masih dan terus menjaga kami dan keluarga setiap saat setiap waktu.. 

Terima kasih Ya ALLAH.. Masih memberi kami waktu untuk bercengkrama dan berkumpul dengan orang-orang yang kami cintai.. 

Terima kasih Ya ALLAH.. untuk segalaaaa nikmat yang tak akan pernah ada habisnya Engkau beri dan curahkan untuk kami :"( 

Maafkan kami yang terlalu seriiing melakukan kesalahan, kekhilafan dan dosa..

Maafkan kami yang masih kurang bersyukur atas segala nikmat, rahmat dan karunia-Mu

Mudahkanlah kami untuk menerima ilmu dan nasihat.. 

Mudahkanlah kami untuk terus mendekat kepada-Mu... 

Limpahkan karunia, kasih sayang, cahaya-Mu pada diri kami Ya Rabbii.... 

Semoga di awal tahun ini, pribadi kita semakin lebih baiik dari yang sebelumnya.. 

Aaamiiin Allahumma aamiiin....



Kamis, 16 Oktober 2014

Tulisan : Semuanya Bermula dari Hati


Kamu tahu kan, kupu-kupu yang indah itu tidak terbentuk dengan mudah? Ia harus melalui berbagai proses yang sangaaat panjang, puluhan hari menikmati prosesnya demi sebuah bentuk yang indah dan cantik..

Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk bermetamorfosis seperti kupu-kupu, menjadi pribadi yang cantik, bukan sekedar fisik.

Setiap orang pasti ingin terus menjadi lebih baik dari hari ke hari, terutama hati.


Sekitar tahun 2010, pernah aku dengar kisah tiga orang sahabat yang sangat ingin bermetamorfoself menjadi jati diri yang baru, menjadi seorang muslimah sejati yang bisa menjaga izzah dan iffah..

Keinginan mereka itu sudah sangat lama terpendam, tapi karena beberapa hal, mereka belum bisa mewujudkannya. Terutama karena permasalahan hati. Ya, mereka menyimpan nama seseorang yang sangat spesial di hati. Mereka tak bisa memungkiri, bahwa nama seseorang itu selalu teringat kapan saja, dimana saja. Meski mereka tau, sesungguhnya hal itu salah. Oleh karena itu, keresahan-keresahan yang mereka rasakan itu, perasaan-perasaan yang mereka simpan untuk seseorang yang spesial itu, mendorong mereka untuk memperbaiki diri agar tidak terjatuh terlalu dalam.

Mereka cukup tau, darimana mimpi-mimpi dapat terangkai. Dari perubahan dalam diri untuk menjadi lebih baik setiap waktu..

Mereka sangat ingin mencoba untuk benar-benar menjadi cahaya dan membuat perubahan bagi banyak orang, terutama orang-orang terdekat.

Mereka kemudian memulainya dari hal-hal kecil, mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk, semuanya...

Mereka menyadari satu hal, bahwa untuk masa depan, mereka harus menjadi wanita sholihah, akhwat sejati, ibu buat anak-anak mereka kelak, menjadi istri yang baik untuk suami..

Kamu tau, salah satu jalan mewujudkan itu semua adanya di hati. Ya, semua bermula dari hati. Ketika hati kamu sudah menyimpan satu nama, maka hari-harimu akan dipenuhi oleh namanya, bayangan tentang dirinya, cerita-cerita tentangnya, dan segala hal tentangnya.

Kamu tau, itu semua menghabiskan cukup banyak waktumu yang berharga. Jangan memungkiri, semua merasakan itu, aku yakin. Kecuali orang-orang yang imanya sangat kuat.
Akhirnya, 3 sahabat tadi melepas masing-masing nama yang mereka simpan selama ini. Dan berani mengakhiri semua tentang pujaan-pujaan hatinya. Meski mereka harus melaluinya dengan proses yang berat, tapi mereka sudah berusaha. Hingga saat ini pun mereka masih terus berusaha, meski prosesnya tidak semulus yang dibayangkan..

Mereka hanya meyakini bahwa pertemuan adalah takdir-Nya, berpisahpun karena takdir-Nya..

Untukmu para muslimah.. Aku kagum dengan ketaatanmu pada Rabb-Mu..
Semoga kita semua, senantiasa menjaga iffah dan izzah sebagai muslimah dan hamba Allah yang terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Tak perlu-lah kau tatap masa kelammu, jadikan itu sebagai pelajaran. Cukuplah semua masa kelam itu ada di masa lalu, biarkan masa depanmu merasakan masa yang indah...

Nenden Munawaroh

Rabu, 15 Oktober 2014

Pikirkan Dulu...

Adakah hal-hal yang masih saja kita lakukan, meski kita sudah tau hal tersebut tidak baik?? Menjudge atau membicarakan sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan diri kita, misalnya. Apalagi dengan semakin berkembangnya media informasi dan komunikasi sekarang ini. Terkadang dengan melihat status di akun socmed seseorang, dengan mudahnya mulut kita men-judge yang tidak-tidak dari status si pemilik akun tersebut. Padahal, kita tidak hadir dalam kehidupannya selama 24 jam! Tapi aktivitas kepo kemudian judging itu seakan-akan sudah merupakan hal biasa untuk dilakukan.
                                  
Mungkin, diantara kita ada yang merasa senang setelah men-judge seseorang, meski hanya melalui socmed. Senang? Sedih? Atau neyesek? Tersindir? Atau mungkin merasa puas karena sudah menyimpulkan hal-hal yang menurut kita benar, setelah menelusuri akun seseorang tersebut.

Bukan merasa diri paling benar, bukan juga merasa diri ga pernah kepo kemudian men-judge seseorang dengan seenak jidat. bukan, bukan karena itu semua. Aku menuliskan ini, karena aku-lah salah satu dari orang-orang tersebut.
Karena aku sadar hal yang aku lakukan ini salah, yang kemudian membuatku berpikir sejenak, ingin rasanya meninggalkan dunia maya dengan socmed-socmed yang ada saat ini. Habis, cape, isinya Cuma keluhan-keluhan, sindiran, pamer, dan lain-lain. Meskipun banyak akun-akun yang positif yang bisa kita ikuti, contohnya akun-akun para tokoh figur (ustadz, artis-artis yang sholih & sholihah, trainer, dll). Sedihnya, status-status yang berisi keluhan dan hal2 negatif lainnya, berasal dari akun teman-teman kita sendiri, bahkan mungkin diri kita sendiri T_T. Faghfirlanaa Yaa Rabb..
Meski dengan sekuat tenaga dan pikiran + pake jurus wushu *eh XD untuk terus berpikir positif, tetap sajaaa, ada celah buat setan menggelincirkan pikiran kita huhuhu, Na’udzubillah minassyaithoonnirrojiim...

Sebelum kita terlambat menyadari, dan menyesal dengan segala kesimpulan sendiri atas segala sesuatu yang belum tentu benar, yukk kita coba terus untuk berpikir positif...

Banyak sekali perkataan dan juga perbuatan saya yang mungkin menyakiti hati orang lain dan itu termasuk pula ketika saya men-judge orang dengan seenaknya saja. Meminta maaf memang mudah, tapi bagaimana dengan rasa bersalah? Masa iya kita mau terus menerus terlambat menyadari dan menyesalinya? Karena, pasti ada titik dimana kita tidak akan peduli dengan segala perkataan dan juga tulisan yang terkesan klise, namun, akan ada saatnya pula dimana kita menyadari bahwa semua yang terkesan klise itulah justru yang seharusnya ditanamkan sejak awal. (ALYSSA SOEBANDONO)


Let’s think before judge someone or something..

Selasa, 14 Oktober 2014

Tulisan : Mempertanyakan Hidup Kita Sendiri


Kita tidak tahu apa-apa tentang hidup orang lain, sebagaimana orang lain sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang hidup kita. Bahkan sebenarnya kita tidak benar-benar tahu tentang hidup kita sebanyak pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikiran kita tentang hidup kita sendiri.

Jawaban-jawaban atas pertanyaan itu pun tidak serta merta ada seketika kita bertanya. Ada waktu yang harus dilepaskan, ada tenaga yang harus dikeluarkan, ada keresahan yang harus dirasakan, ada ketakutan yang harus di hadapi. Demi sebuah jawaban.

Pertanyaan-pertanyaan kita atas hidup kita sendiri semakin membuat khawatir hari demi hari. Seperti menumpuk sebuah masalah padahal tidak asal kita terus melangkah. Kita tidak akan mendapatkan apapun jika kita berdiam diri.

Pertanyaan yang membuat makan kita hilang rasa, membuat tidur kita terbangun, membuat keceriaan kita seketika bungkam. Pertanyaan yang mendatangkan resah. Tapi, siapa sangka keresahan itu membuat doa-doa kita semakin dalam, semakin tulus, terasa lebih dekat kepada Tuhan.

Tidak semua nikmat itu dalam bentuk kebahagiaan. Itu yang aku pahami. Nikmat serupa kekhawatiran pun bisa kita syukuri bila kita paham bahwa kekhawatiran itu benar-benar membuat kita lebih dekat kepada Tuhan. Seolah-olah tidak ada lagi daya yang bisa kita lakukan dan hanya kepada-Nya kita menggantungkan segala bentuk jawaban.

Pertanyaan-pertanyaan hidup kita tentang esok hari, tentang pasangan hidup seperti apa yang akan mendampingi kita, tentang karier, tentang rejeki, bahkan tentang hidup setelah mati. Setidaknya kita jangan berhenti, karena langkah kaki kita akan memperdekat kita kepada semua jawaban dari pertanyaan itu.

Esok kita akan bertemu dengan orang yang akan mendampingi kita, esok kita akan tahu berapa jumlah anak kita, esok kita akan tahu kita bekerja dimana, esok kita akan mengingat hari ini, bahwa pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada jawabnya.

Bandung, 17 September 2014 | (C)kurniawangunadi

#repost #reminder #muhasabah