Bismillah ...
Alhamdulillaahi rabbil 'alamin..
Terima kasih Ya ALLAH.. Untuk setiap kesempatan yang Engkau berikan untuk kami, hingga masih bisa merasakan nikmat di tahun Baru Hijriyah...
Terima kasih Ya ALLAH.. Untuk kesempatan bertaubat menjadi manusia yang terus lebih baik dari waktu ke waktu... meski seringkali yang kami lakukan adalah taubat sambel :'( tapi Engkau selalu dan selalu memberi kesempatan untuk kami..
Terima kasih Ya ALLAH.. Untuk kesempatan menikmati hidup dengan udara segar setiap pagi..
Terima kasih Ya ALLAH.. Masih dan terus menjaga kami dan keluarga setiap saat setiap waktu..
Terima kasih Ya ALLAH.. Masih memberi kami waktu untuk bercengkrama dan berkumpul dengan orang-orang yang kami cintai..
Terima kasih Ya ALLAH.. untuk segalaaaa nikmat yang tak akan pernah ada habisnya Engkau beri dan curahkan untuk kami :"(
Maafkan kami yang terlalu seriiing melakukan kesalahan, kekhilafan dan dosa..
Maafkan kami yang masih kurang bersyukur atas segala nikmat, rahmat dan karunia-Mu
Mudahkanlah kami untuk menerima ilmu dan nasihat..
Mudahkanlah kami untuk terus mendekat kepada-Mu...
Limpahkan karunia, kasih sayang, cahaya-Mu pada diri kami Ya Rabbii....
Semoga di awal tahun ini, pribadi kita semakin lebih baiik dari yang sebelumnya..
Aaamiiin Allahumma aamiiin....
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 24 Oktober 2014
Kamis, 16 Oktober 2014
Tulisan : Semuanya Bermula dari Hati
Kamu tahu kan, kupu-kupu yang indah itu tidak terbentuk
dengan mudah? Ia harus melalui berbagai proses yang sangaaat panjang, puluhan
hari menikmati prosesnya demi sebuah bentuk yang indah dan cantik..
Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk bermetamorfosis
seperti kupu-kupu, menjadi pribadi yang cantik, bukan sekedar fisik.
Setiap orang pasti ingin terus menjadi lebih baik dari hari
ke hari, terutama hati.
Sekitar tahun 2010, pernah aku dengar kisah tiga orang
sahabat yang sangat ingin bermetamorfoself menjadi jati diri yang baru, menjadi
seorang muslimah sejati yang bisa menjaga izzah dan iffah..
Keinginan mereka itu sudah sangat lama terpendam, tapi karena
beberapa hal, mereka belum bisa mewujudkannya. Terutama karena permasalahan
hati. Ya, mereka menyimpan nama seseorang yang sangat spesial di hati. Mereka tak
bisa memungkiri, bahwa nama seseorang itu selalu teringat kapan saja, dimana
saja. Meski mereka tau, sesungguhnya hal itu salah. Oleh karena itu,
keresahan-keresahan yang mereka rasakan itu, perasaan-perasaan yang mereka
simpan untuk seseorang yang spesial itu, mendorong mereka untuk memperbaiki
diri agar tidak terjatuh terlalu dalam.
Mereka cukup tau, darimana mimpi-mimpi dapat terangkai. Dari perubahan
dalam diri untuk menjadi lebih baik setiap waktu..
Mereka sangat ingin mencoba untuk benar-benar menjadi cahaya
dan membuat perubahan bagi banyak orang, terutama orang-orang terdekat.
Mereka kemudian memulainya dari hal-hal kecil, mengubah
kebiasaan-kebiasaan buruk, semuanya...
Mereka menyadari satu hal, bahwa untuk masa depan, mereka
harus menjadi wanita sholihah, akhwat sejati, ibu buat anak-anak mereka kelak,
menjadi istri yang baik untuk suami..
Kamu tau, salah satu jalan mewujudkan itu semua adanya di
hati. Ya, semua bermula dari hati. Ketika hati kamu sudah menyimpan satu nama,
maka hari-harimu akan dipenuhi oleh namanya, bayangan tentang dirinya,
cerita-cerita tentangnya, dan segala hal tentangnya.
Kamu tau, itu semua menghabiskan cukup banyak waktumu yang
berharga. Jangan memungkiri, semua merasakan itu, aku yakin. Kecuali orang-orang
yang imanya sangat kuat.
Akhirnya, 3 sahabat tadi melepas masing-masing nama yang
mereka simpan selama ini. Dan berani mengakhiri semua tentang pujaan-pujaan
hatinya. Meski mereka harus melaluinya dengan proses yang berat, tapi mereka
sudah berusaha. Hingga saat ini pun mereka masih terus berusaha, meski
prosesnya tidak semulus yang dibayangkan..
Mereka hanya meyakini bahwa pertemuan adalah takdir-Nya,
berpisahpun karena takdir-Nya..
Untukmu para muslimah.. Aku kagum dengan ketaatanmu pada
Rabb-Mu..
Semoga kita semua, senantiasa menjaga iffah dan izzah sebagai
muslimah dan hamba Allah yang terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Tak
perlu-lah kau tatap masa kelammu, jadikan itu sebagai pelajaran. Cukuplah semua
masa kelam itu ada di masa lalu, biarkan masa depanmu merasakan masa yang
indah...
Nenden Munawaroh
Rabu, 15 Oktober 2014
Pikirkan Dulu...
Adakah hal-hal yang masih saja kita lakukan, meski
kita sudah tau hal tersebut tidak baik?? Menjudge atau membicarakan sesuatu
yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan diri kita, misalnya. Apalagi dengan
semakin berkembangnya media informasi dan komunikasi sekarang ini. Terkadang dengan
melihat status di akun socmed seseorang, dengan mudahnya mulut kita men-judge yang tidak-tidak dari status si
pemilik akun tersebut. Padahal, kita tidak hadir dalam kehidupannya selama 24
jam! Tapi aktivitas kepo kemudian judging itu seakan-akan sudah merupakan
hal biasa untuk dilakukan.
Mungkin, diantara kita ada yang merasa senang setelah
men-judge seseorang, meski hanya
melalui socmed. Senang? Sedih? Atau neyesek?
Tersindir? Atau mungkin merasa puas karena sudah menyimpulkan hal-hal yang
menurut kita benar, setelah menelusuri akun seseorang tersebut.
Bukan merasa diri paling benar, bukan
juga merasa diri ga pernah kepo kemudian
men-judge seseorang dengan seenak
jidat. bukan, bukan karena itu semua. Aku menuliskan ini, karena aku-lah salah
satu dari orang-orang tersebut.
Karena aku sadar hal yang aku lakukan
ini salah, yang kemudian membuatku berpikir sejenak, ingin rasanya meninggalkan
dunia maya dengan socmed-socmed yang
ada saat ini. Habis, cape, isinya Cuma keluhan-keluhan, sindiran, pamer, dan
lain-lain. Meskipun banyak akun-akun yang positif yang bisa kita ikuti,
contohnya akun-akun para tokoh figur (ustadz, artis-artis yang sholih &
sholihah, trainer, dll). Sedihnya, status-status yang berisi keluhan dan hal2
negatif lainnya, berasal dari akun teman-teman kita sendiri, bahkan mungkin
diri kita sendiri T_T. Faghfirlanaa Yaa Rabb..
Meski dengan sekuat tenaga dan pikiran +
pake jurus wushu *eh XD untuk terus berpikir positif, tetap sajaaa, ada celah
buat setan menggelincirkan pikiran kita huhuhu, Na’udzubillah minassyaithoonnirrojiim...
Sebelum kita terlambat menyadari, dan
menyesal dengan segala kesimpulan sendiri atas segala sesuatu yang belum tentu
benar, yukk kita coba terus untuk berpikir positif...
Banyak sekali perkataan dan juga perbuatan saya yang
mungkin menyakiti hati orang lain dan itu termasuk pula ketika saya men-judge
orang dengan seenaknya saja. Meminta maaf memang mudah, tapi bagaimana dengan
rasa bersalah? Masa iya kita mau terus menerus terlambat menyadari dan
menyesalinya? Karena, pasti ada titik dimana kita tidak akan peduli dengan
segala perkataan dan juga tulisan yang terkesan klise, namun, akan ada saatnya
pula dimana kita menyadari bahwa semua yang terkesan klise itulah justru yang
seharusnya ditanamkan sejak awal. (ALYSSA SOEBANDONO)
Let’s think before judge someone or
something..
Selasa, 14 Oktober 2014
Tulisan : Mempertanyakan Hidup Kita Sendiri
Kita tidak tahu apa-apa tentang hidup
orang lain, sebagaimana orang lain sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang hidup
kita. Bahkan sebenarnya kita tidak benar-benar tahu tentang hidup kita sebanyak
pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikiran kita tentang hidup kita sendiri.
Jawaban-jawaban atas pertanyaan itu pun
tidak serta merta ada seketika kita bertanya. Ada waktu yang harus dilepaskan,
ada tenaga yang harus dikeluarkan, ada keresahan yang harus dirasakan, ada
ketakutan yang harus di hadapi. Demi sebuah jawaban.
Pertanyaan-pertanyaan kita atas hidup kita
sendiri semakin membuat khawatir hari demi hari. Seperti menumpuk sebuah
masalah padahal tidak asal kita terus melangkah. Kita tidak akan mendapatkan
apapun jika kita berdiam diri.
Pertanyaan yang membuat makan kita hilang
rasa, membuat tidur kita terbangun, membuat keceriaan kita seketika bungkam.
Pertanyaan yang mendatangkan resah. Tapi, siapa sangka keresahan itu membuat
doa-doa kita semakin dalam, semakin tulus, terasa lebih dekat kepada Tuhan.
Tidak semua nikmat itu dalam bentuk
kebahagiaan. Itu yang aku pahami. Nikmat serupa kekhawatiran pun bisa kita
syukuri bila kita paham bahwa kekhawatiran itu benar-benar membuat kita lebih
dekat kepada Tuhan. Seolah-olah tidak ada lagi daya yang bisa kita lakukan dan
hanya kepada-Nya kita menggantungkan segala bentuk jawaban.
Pertanyaan-pertanyaan hidup kita tentang
esok hari, tentang pasangan hidup seperti apa yang akan mendampingi kita,
tentang karier, tentang rejeki, bahkan tentang hidup setelah mati. Setidaknya
kita jangan berhenti, karena langkah kaki kita akan memperdekat kita kepada
semua jawaban dari pertanyaan itu.
Esok kita akan bertemu dengan orang yang
akan mendampingi kita, esok kita akan tahu berapa jumlah anak kita, esok kita
akan tahu kita bekerja dimana, esok kita akan mengingat hari ini, bahwa
pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada jawabnya.
Bandung, 17 September 2014 |
(C)kurniawangunadi
Langganan:
Postingan (Atom)