Rabu, 05 November 2014

Cermin dari Seorang Sahabat


Kota Hujan, 28 Oktober 2014

Sore itu, hujan turun cukup deras. Aku dan dua orang sahabat menanti hujan reda sambil menikmati makan siang yang sangat terlambat.
Tapi kami tetap menikmatinya, meski perutku sudah sedikit mual karena terlambat makan. 
Salah satu sahabatku, terlihat sedikit pucat. Memang sejak kemarin dia mengeluh sudah tidak enak badan. 
Wajar saja, karena cuaca yang berubah-ubah, sehingga kondisi tubuh kita lebih sering terserang penyakit. 
Selain itu, mungkin karena dia masuk angin akibat perjalanan jauh yang harus dia tempuh pulang pergi menuju kampus. 
Aku yang sama-sama mengendarai motor dengan jarak rumah menuju kampus lebih dekat dibandingkan dia saja, sering kali masuk angin.
Aku sangat kagum pada dua sahabatku ini.. Meski mereka cukup lelah melakukan aktivitas sebelum kuliah yaitu mengajar, tetapi senyum tak pernah lepas dari bibir mereka. Kadang aku malu, aku mungkin tak selelah mereka, tapi kalau tidak mood sedikiiit saja, pasti bawaannya pengen cemberut.

Ah, aku memang harus terus berkaca pada orang-orang disekitarku.. Banyak sekali hal-hal yang belum aku pahami sepenuhnya..
Bahkan tentang kesetiaan mereka-pun sangat aku acungi jempol. 

Ketika hujan mulai sedikit reda, kami memutuskan untuk pulang. Meski dengan jaket seadanya, kami nekat saja.. Karena langit sudah semakin gelap, teringat kekhawatiran orang tua jika kami pulang terlalu malam. 

Karena hujan masih terus turun, aku memutuskan untuk memakai jaket sekaligus menutup tas, sehingga punggungku terlihat agak menggelembung. Aku bertanya pada dua sahabatku itu, apakah ini terlihat aneh? 
"Nggak kok, nggak.." begitu jawab mereka sambil tertawa kecil. Meski sebenarnya aku tahu mereka berbohong untuk meyakinkan aku. 
"Ahh, yang bener?" Tanyaku lagi untuk lebih meyakinkan.
Dan masih sama saja jawaban mereka. Ah, sudahlah biarkan saja sekali ini, aku terlihat aneh. Memang sebelumnya gak aneh ya? hehehe

Akhirnya aku dan sahabatku mengendarai motor masing-masing. Biasanya dia selalu berada di depan motorku, tapi kali ini, aku yang lebih dulu. 
Aku terus saja melihat ke arah spion, memperhatikan dia yang sedang tertawa-tawa. 
Huhh.. pasti dia tertawa melihat bentuk anehku dari belakang. 
Aku pura-pura ngambek, ketika motornya bersisian denganku. 
Tapi gelak tawanya malah membuatku ikut tertawa, menertawakan kekonyolan kita. 

Alhamdulillaah.. aku sangat menikmati hujan dan keberkahannya. 

Setiap kali aku tertinggal agak jauh, biasanya mereka menungguku di pinggir jalan, kemudian ketika melihatku, melanjutkan perjalanan bersama.
Mungkin hal ini sering orang-orang lakukan, tapi ketika konvoi atau rombongan. 
Tapi hal ini, selalu aku rasakan ketika pulang kuliah bersama mereka.. 

Indaah sekali yaa Rabb... 
Terima Kasih telah menghadiahkan mereka di kehidupanku...

Tapi, Sudahkah aku menjadi sahabat terbaik untuk mereka? 

Tidak ada komentar: