Kita tidak tahu apa-apa tentang hidup
orang lain, sebagaimana orang lain sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang hidup
kita. Bahkan sebenarnya kita tidak benar-benar tahu tentang hidup kita sebanyak
pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikiran kita tentang hidup kita sendiri.
Jawaban-jawaban atas pertanyaan itu pun
tidak serta merta ada seketika kita bertanya. Ada waktu yang harus dilepaskan,
ada tenaga yang harus dikeluarkan, ada keresahan yang harus dirasakan, ada
ketakutan yang harus di hadapi. Demi sebuah jawaban.
Pertanyaan-pertanyaan kita atas hidup kita
sendiri semakin membuat khawatir hari demi hari. Seperti menumpuk sebuah
masalah padahal tidak asal kita terus melangkah. Kita tidak akan mendapatkan
apapun jika kita berdiam diri.
Pertanyaan yang membuat makan kita hilang
rasa, membuat tidur kita terbangun, membuat keceriaan kita seketika bungkam.
Pertanyaan yang mendatangkan resah. Tapi, siapa sangka keresahan itu membuat
doa-doa kita semakin dalam, semakin tulus, terasa lebih dekat kepada Tuhan.
Tidak semua nikmat itu dalam bentuk
kebahagiaan. Itu yang aku pahami. Nikmat serupa kekhawatiran pun bisa kita
syukuri bila kita paham bahwa kekhawatiran itu benar-benar membuat kita lebih
dekat kepada Tuhan. Seolah-olah tidak ada lagi daya yang bisa kita lakukan dan
hanya kepada-Nya kita menggantungkan segala bentuk jawaban.
Pertanyaan-pertanyaan hidup kita tentang
esok hari, tentang pasangan hidup seperti apa yang akan mendampingi kita,
tentang karier, tentang rejeki, bahkan tentang hidup setelah mati. Setidaknya
kita jangan berhenti, karena langkah kaki kita akan memperdekat kita kepada
semua jawaban dari pertanyaan itu.
Esok kita akan bertemu dengan orang yang
akan mendampingi kita, esok kita akan tahu berapa jumlah anak kita, esok kita
akan tahu kita bekerja dimana, esok kita akan mengingat hari ini, bahwa
pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada jawabnya.
Bandung, 17 September 2014 |
(C)kurniawangunadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar