Kamis, 18 Desember 2014


5 Desember 2014

Siang itu aku melihat status sahabatku, Nana. "Omongan kalian tuh nyakitin banget tau gak!" 
Sepertinya ujian kembali menghampirinya.. 
Aku langsung mengirimkan chat kepadanya. "Na... kenapa ?"
Mengalirlah kata-kata darinya, bak derasnya air hujan. 

"aku pengen nangiiiiss :'(
aku udah cape diolok-olok terus .. setiap hari yang dibahas masalah pasangan. mereka pikir aku ini ga laku-laku karena ga punya pasangan. padahal kan kamu tau sendiri kita kaya gini karena apa, karena pengen ngejaga diri. dan aku ga mungkin kan cerita ke mereka. Yang ada aku ga didengerin sama mereka, sok sucilah."
aku capeeee  :'("

Jleb! seketika aku terdiam.. mencerna setiap kata yang ia tumpahkan. Betapa Allah sangat sayang pada sahabatku Nana, ketika diluar sana, orang dengan mudahnya menjalin hubungan2 yang menurut mereka sah sah saja. Nana, tetap dengan pendirian dan prinsipnya untuk menjaga diri di tengah-tengah lingkungan yang sama sekali ga mendukung prinsipnya itu. 
Allah, betapa Engkau sangat mencintainya, ketika ia berhijrah untuk berhijab, ujianpun tidak berhenti Engkau berikan padanya. dan aku sangat yakin Engkau sangat mencintainya, sehingga memberikan cobaan itu untuk menguji keimanannya..

"Nana sayaang... sabar yah... aku yakin, kamu pasti bisa laluin ujian Allah ini. sebagaimana kamu melewati ujian-ujian yang Allah berikan sebelumnya..
aku hanya bisa mendoakanmu dari sini.. Kuat na.. Inget, Allah udah banyak kasih kamu kemudahan selama ini, sesulit apapun ujiannya.." 
"Iyaa... makasih yaaa... semoga aku kuat terus dan bisa lewatin semuanya.."

Kadang, aku suka berpikir, kayanya aku jarang dikasih masalah, berarti keimananku ga naik-naik ya atau aku yang mungkin ga bersyukur. astaghfirullah... 
ujian itu kan bukan hanya yang susah, tapi senang pun bisa jadi ujian. Astaghfirullah... 
jauhkanlah kami dari sifat orang-orang yang kufur nikmat...
aaamiiin...

Kamu pasti bisa laluin ini, Na.. jaga dirimu, hatimu, sampai seseorang menjemputmu dengan indah ^_^

Senin, 01 Desember 2014

Memastikan Rasa

Banyak orang yang memiliki perasaan kepada orang lain. Namun, malas memastikannya. Memiliki rasa lantas berbunga-bunga, tebar pesona kesana kemari demi menarik sang pujaan hati.Banyak orang yang malas memastikan perasaannya sendiri. Apakah sekedar perasaan sepintas karena paras yang yang menawan? Atau pada lakunya yang santun? Apakah sebuah kekaguman saja kepada seseorang? Apakah hanya sebuah rasa penasaran kepada orang tersebut?
Aku sudah memastikan perasaanku kepada seseorang selama lebih dari sekian tahun dan aku belum bisa mengenalinya dengan baik. Apakah ini benar-benar perasaan yang baik? Ataukah sekedar hasrat yang aku tanggapi secara berlebihan?

Aku tidak mengungkapkannya kepada siapapun, berhati-hati dalam berlaku. Aku tetap saja tidak bisa mengenalinya. Bukan, bukannya aku takut untuk mengatakan, bukannya aku takut untuk menunjukkan. Aku hanya takut kalau perasaan ini bukanlah sesuatu yang seharusnya dituruti. Seperti gejolak-gejolak yang tidak selayaknya diladeni. Aku takut ini hanya sebuah perasaan senang kepada tantangan, sebagai seorang laki-laki yang suka tantangan. Rasa penasaran kepada seseorang yang jika rasa penasaran itu hilang, lantas perasaan itu tidak menjadi bermakna sama sekali.

Aku memastikannya lebih dari sekian tahun. Dalam keberjalanannya pun aku tertarik dan memiliki perasaan kepada yang lain. Lalu aku mempertanyakan perasanku yang pertama tadi. Benarkah aku benar-benar memiliki perasaan kepadanya, mengapa aku tertarik dengan yang lain?

Aku terus mempertanyakannya, memastikan seluruh perasaan itu yang terkumpul menjadi satu. Menganalisanya satu persatu mana yang benar-benar rasa, mana yang sekedar kagum. Mana yang sekedar terpikat paras, mana yang sekedar main-main.

Aku mempertanyakannya hingga hari ini, hari ketika aku masih belum juga mengenalinya. Sampai pada titik dimana aku merasa ada satu hal yang berbeda dari rasa-rasa yang lain, yaitu aku selalu kembali kepadamu. Perasaan itu selalu kembali kepadamu.

Aku tahu ini bukan jawaban yang singkat, nyaris seumur sekolahku aku mencari jawabannya. Sekalipun aku sudah berusaha menghilangkannya. Kini aku berdamai pada diriku sendiri, aku tahu aku selama ini bergerak menujumu. Perasaan itu hanya perlu dipatri pada satu tempat agar tidak kemana-kemana lagi.

Memastikannya membutuhkan waktu yang berbeda setiap orang, bahkan ada yang bertahun-tahun. Delapan tahun? Sembilan tahun? Bahkan lebih. Memendamnya hanya untuk memastikan, benarkah?
Hingga pada jawaban terakhir ketika setiap pemilik rasa mau dan mampu berdamai dengan perasaannya. Ada yang menemukan jawabannya ternyata benar atau ternyata selama ini salah. Ada yang kemudian mundur dengan bahagia. Ada pula yang memastikannya hanya butuh bilangan bulan sejak merasa pertama kali.

Dan untuk memastikannya membutuhkan kesabaran dan ketekunan pendekatan kepada Tuhan.
Tak perlu disyiarkan kepada seluruh dunia agar tahu, tak perlu diwujudkan dalam laku yang norak untuk mencuri perhatian. Diamlah dan dengarkan nasihatku; pastikanlah, pastikanlah, pastikanlah.
Agar kamu tidak seperti pemuda yang tergesa-gesa mengungkapkan perasaanya, pemuda yang terpedaya oleh angan-angannya sendiri.

Ditulis di Bandung, 20 Agustus 2013 | (c)kurniawangunadi
Memastikan Rasa - dalam Hujan Matahari hlm.155

Selasa, 25 November 2014

Tulisan : Dengan Cara Kita Sendiri



Kita akan (saling) jatuh cinta dengan cara kita sendiri. Tidak peduli orang lain mau berkata seperti apa, kita menikmati setiap waktu yang membuat jarak semakin dekat. Kita akan jatuh cinta dengan cara kita sendiri. Bukan dengan banyaknya pesan yang dikirim, bukan pula dengan banyaknya bunga yang diberikan. Apalagi sekadar ucapan salam. Tidak ada semua itu.
Kita akan saling jatuh cinta dengan cara kita sendiri. Dengan buku yang sama, yang kita baca. Dengan tulisan yang sama, yang kita tulis. Dengan tidak memberi tahu satu sama lain bahwa masing-masing kita sedang sibuk berdoa. Kita akan saling jatuh cinta dengan cara kita sendiri. Tidak ada pertemuan yang sering, tidak pernah ada telepon yang berdering. Tidak ada semua itu.
Kita akan saling jatuh cinta dengan cara kita sendiri. Dengan menulis catatan perjalanan rasa yang masing-masing kita miliki. Tidak bisa diterjemahkan oleh orang lain selain kita sendiri. Tidak akan dipahami maknanya kecuali oleh kita sendiri. Dan kita bahagia karena ternyata kita jatuh cinta dengan cara yang aman.
Kita akan saling jatuh cinta dengan cara kita sendiri. Tanpa memberi tahunya, tanpa pernah menyebut namanya di depan orang lain. Dan kita akan tetap berjalan dengan cara kita sendiri. Tidak peduli orang mau bilang apa. Kita menikmati setiap kali kita jatuh, setiap kali kita merasa aman bahwa cinta kita jatuh pada orang yang tepat.
Bandung, 22-23 November 2014 | (c)kurniawangunadi

Senin, 17 November 2014

Tulisan : Mengelola Ekspektasi

Dalam perjalanan yang kita buat, kita (mungkin) akan bertemu dengan seseorang yang cukup baik budinya, sopan lakunya, menyenangkan bicaranya, (terlihat) menarik kepribadiannya, cukup baik agamanya. Seseorang yang membuat kita berpikir bahwa (mungkin) dia adalah seseorang yang selama ini kita tunggu kemunculannya. Seseorang yang berhasil membuat kita cukup nyaman dan aman. Seseorang yang berhasil membuat kita berpikir sekaligus berangan-angan. Meski memiliki banyak kekurangan, kita lebih merasa banyak kecenderungan.


Kita berpikir seratus langkah lebih jauh setiap kali dia melakukan sesuatu. Kita menduga-duga bagaimana perasaannya kepada kita sebab kita tidak pernah tahu. Kita menerka apakah dia begitu baik hanya kepada kita atau memang pada dasarnya dia baik kepada semua orang.
Kita membuat sebuah analisis sederhana tentang pertanyaan ‘jika’ dan ‘seandainya’. Kita (mungkin) memikirkan bagaimana bila hidup ini dijalani dengannya. Betapa bahagianya, betapa menariknya, dan betapa serunya.

Saat itu terjadi, sejatinya kita sedang membiarkan diri kita lepas dari pijakan. Kita sedang melangkah ke arah yang tidak kita tahu jauhnya, terbang dan tidak kita tahu tingginya. Dan kita tidak siap tersesat pun tidak siap jatuh.

Kita harus pandai mengelola ekspektasi kita terhadap seseorang, siapapun itu. Karena kita mungkin sedang diuji, mungkin pula kita memang sedang dianugerahi. Kita tidak tahu itu sebuah ujian atau sebuah anugerah. Selama kita tidak tahu kepastiannya, selama itu pula kita harus menjaga ekspektasi kita terhadap seseorang. Sebab rasa nyaman (dan aman) kepada seseorang itu jauh lebih berbahaya dari jatuh cinta.

Stasiun Malang, Jawa Timur | 10 November 2014 | (c)kurniawangunadi
via - http://kurniawangunadi.tumblr.com/


#repost #reminding

Rabu, 05 November 2014

Cermin dari Seorang Sahabat


Kota Hujan, 28 Oktober 2014

Sore itu, hujan turun cukup deras. Aku dan dua orang sahabat menanti hujan reda sambil menikmati makan siang yang sangat terlambat.
Tapi kami tetap menikmatinya, meski perutku sudah sedikit mual karena terlambat makan. 
Salah satu sahabatku, terlihat sedikit pucat. Memang sejak kemarin dia mengeluh sudah tidak enak badan. 
Wajar saja, karena cuaca yang berubah-ubah, sehingga kondisi tubuh kita lebih sering terserang penyakit. 
Selain itu, mungkin karena dia masuk angin akibat perjalanan jauh yang harus dia tempuh pulang pergi menuju kampus. 
Aku yang sama-sama mengendarai motor dengan jarak rumah menuju kampus lebih dekat dibandingkan dia saja, sering kali masuk angin.
Aku sangat kagum pada dua sahabatku ini.. Meski mereka cukup lelah melakukan aktivitas sebelum kuliah yaitu mengajar, tetapi senyum tak pernah lepas dari bibir mereka. Kadang aku malu, aku mungkin tak selelah mereka, tapi kalau tidak mood sedikiiit saja, pasti bawaannya pengen cemberut.

Ah, aku memang harus terus berkaca pada orang-orang disekitarku.. Banyak sekali hal-hal yang belum aku pahami sepenuhnya..
Bahkan tentang kesetiaan mereka-pun sangat aku acungi jempol. 

Ketika hujan mulai sedikit reda, kami memutuskan untuk pulang. Meski dengan jaket seadanya, kami nekat saja.. Karena langit sudah semakin gelap, teringat kekhawatiran orang tua jika kami pulang terlalu malam. 

Karena hujan masih terus turun, aku memutuskan untuk memakai jaket sekaligus menutup tas, sehingga punggungku terlihat agak menggelembung. Aku bertanya pada dua sahabatku itu, apakah ini terlihat aneh? 
"Nggak kok, nggak.." begitu jawab mereka sambil tertawa kecil. Meski sebenarnya aku tahu mereka berbohong untuk meyakinkan aku. 
"Ahh, yang bener?" Tanyaku lagi untuk lebih meyakinkan.
Dan masih sama saja jawaban mereka. Ah, sudahlah biarkan saja sekali ini, aku terlihat aneh. Memang sebelumnya gak aneh ya? hehehe

Akhirnya aku dan sahabatku mengendarai motor masing-masing. Biasanya dia selalu berada di depan motorku, tapi kali ini, aku yang lebih dulu. 
Aku terus saja melihat ke arah spion, memperhatikan dia yang sedang tertawa-tawa. 
Huhh.. pasti dia tertawa melihat bentuk anehku dari belakang. 
Aku pura-pura ngambek, ketika motornya bersisian denganku. 
Tapi gelak tawanya malah membuatku ikut tertawa, menertawakan kekonyolan kita. 

Alhamdulillaah.. aku sangat menikmati hujan dan keberkahannya. 

Setiap kali aku tertinggal agak jauh, biasanya mereka menungguku di pinggir jalan, kemudian ketika melihatku, melanjutkan perjalanan bersama.
Mungkin hal ini sering orang-orang lakukan, tapi ketika konvoi atau rombongan. 
Tapi hal ini, selalu aku rasakan ketika pulang kuliah bersama mereka.. 

Indaah sekali yaa Rabb... 
Terima Kasih telah menghadiahkan mereka di kehidupanku...

Tapi, Sudahkah aku menjadi sahabat terbaik untuk mereka? 

Minggu, 02 November 2014

Keutamaan Puasa Asyura


1- Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).
2- Puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu
Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).
3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah)
Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14.
# Tahun ini (1436 H), tanggal 9 dan 10 Muharram jatuh pada hari Ahad dan Senin (2 dan 3 November 2014).
Semoga kita bisa menjalaninya dan jangan lupa sampaikan pada istri, anak, kerabat dan rekan-rekan muslim lainnya.
—-
M. Abduh Tuasikal,

reposted via http://phyqchan.tumblr.com/

ayoo kita Puasa ^_^

Satu dari Seribu



Anggaplah aku satu dari seribu.
Jika orang lain mencintaimu dengan mengejarmu, aku hanya bisa tersenyum seraya menunduk kepadamu, bergurau dengan canda tawa di hadapanmu demi menutupi wajahku yang merona merah…menutupi diriku yang sesungguhnya sangat salah tingkah ketika bersamamu.
Anggaplah aku satu dari seribu.
Jika orang lain mencintaimu dengan mengejarmu, aku hanya bisa mengirimkan beberapa sms semangat, yang kemudian kuhentikan karena merasa ada yang tidak benar dengan mengirimkan sms-sms itu…sejujurnya jari-jariku ini terasa gatal tiap kali aku membuka kontak di ponselku dan melihat namamu ada di dalamnya.
Anggaplah aku satu dari seribu.
Jika orang lain mencintaimu dengan mengejarmu, semakin hari aku semakin takut berada di dekatmu, aku menahan diriku agar dapat sejarang mungkin berkomunikasi denganmu…kemudian aku perlahan menjauh, ketika hatiku mulai bergemuruh hanya dengan melihat sosokmu, ketika mataku senantiasa menemukan dirimu, tak peduli ada berapa banyak orang di sekitar kita, tak peduli seberapa jauh jarak antara aku dan kamu.
Anggaplah aku satu dari seribu.
Jika orang lain mencintaimu dengan mengejarmu, aku mulai gelisah…dan aku mulai menceritakan tentangmu kepada Sang Pembolak-balik hati, kutitipkan hati dan harapanku kepadaNya…lalu kusebutkan namamu di tiap do’a dalam sujud-sujudku, dan tak ada satupun do’a yang memohonkan agar aku bisa memilikimu, semua do’aku tiada lain senantiasa dan selalu…agar kamu menemukan kebahagiaan dalam hidupmu.
dengan cara itulah aku mencintaimu.