Sabtu, 14 Februari 2015

Bagaimana Jika Aku?

Jumat, 13 Februari 2015

Pagi yang mendung, aku sudah tiba di sekolah tempatku magang. Hari ini aku tidak ada jadwal mengajar, tetapi hanya bertugas menjadi guru piket. Ini adalah kali kedua aku bertugas menjadi guru piket.
Seperti biasa, aku dan dua temanku menyiapkan dokumen-dokumen untuk mencatat anak-anak yang terlambat. Seperti minggu sebelumnya, begitu banyak anak-anak yang terlambat datang. Hm, aku pun membayangkan bagaimana mereka bisa terlambat, aku tahu dimana-mana sekarang selalu macet, meski sudah berangkat lebih pagi pun tetap saja.. 
Oke, setelah mengurus mereka semua, dan meminta mereka semua pergi ke perpustakaan untuk mendapat peringatan/hukuman. 
Begitulah fenomena keterlambatan ini terjadi di setiap harinya.

Tapi, ada kejadian yang lebih menyedihkan, dibandingkan fenomena tadi.
Masih di meja piket (Tempat aku dan dua teman duduk menjadi guru piket), tiga orang siswa kelas 7 menghampiri guru yang sedang berbincang dengan kami, sehingga percakapan kami terputus. Aku sayup-sayup mendengar salah satu anak itu berkata..

"Ibu, aku mau izin satu minggu.. ini aku dapet sms bu, tapi aku takut bacanya.." Ucapnya pelan.. 

dan entah ia membuka sms itu atau tidak, tiba-tiba dia pingsan.
Aku menerka-nerka, kenapa dia begitu takut membuka sms itu.. Pikiran negatif pun muncul, apakah sms itu berisi tentang kabar duka?

Langsung saja, teman-teman membantu membawa anak itu ke ruang guru. 
aku yang masih sibuk menerka, kemudian tersadar, ketika salah satu guru menghampiri kami.

"Dia dapat kabar duka, ayahnya dikabarkan meninggal di Jogja. Kasian kalau di kasih tau lewat sms, anak sekecil itu pasti sedih sekali.." Ucap Guru sedih.

"Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un..." Ucap kami berbarengan.

Astaghfirullah... sedih sekali melihatnya. Kadang aku yang suka takut mengalami hal seperti itu. Apa aku bisa tegar? Apa aku bisa kuat mendengar/membaca berita duka kehilangan seseorang yang kita cintai?

Akhirnya, beberapa jam kemudian, ia dijemput oleh kakaknya. Sekilas aku lihat wajah si anak, terlihat begitu tegar, meski sempat mengalami pingsan karena shock.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa fu'anhu..
Semoga Ayahmu tenang disana ya nak...


Bagaimana jika AKU?
Jika aku yang mengalaminya kelak, semoga Allah beri aku dan orang-orang yang kucintai bersabar dan ikhlas menerima segala ketentuan Allah..

Meski berkata tak semudah kenyataannya, aku hanya bisa berdoa.. 
sebelum saat itu tiba, semoga Aku bisa membahagiakan orang-orang yang kucintai sebelum kami berpisah untuk selamanya di dunia. 

Jadikan kami hamba-hambaMu yang berserah diri..
Allah... panjangkanlah usia kami dan selalu dalam kebaikan dan ridho-Mu...

Aamiiin...


Allahumaghfir lilmuslimiina wal muslimaat al ahya'i wal amwaat..

Tidak ada komentar: