Kamis, 05 Februari 2015

Tulisan: Episode Hening


Aku selalu senang menikmati episode hening dalam hidupku. Suka, sangat suka. Jika ditanya alasannya kenapa, sebenarnya, aku lebih suka menjawabnya dengan entah. Bukan karena tak tahu, tapi memang sulit untuk digambarkan. Tapi tak ada salahnya juga untuk mencoba kan?
Buatku, hening tak harus malam. Walaupun malam sudah ditunjuk Tuhan untuk memfasilitasi hening yang terbaik di sepertiganya. Hening juga tak melulu sepi. Walaupun sepi sudah mengakuisisi hening agar identik dengannya. Maka, jika tidak berjodoh dengan sepi karena waktu yang tak sepakat, atau karena kondisi yang tak memihak, hening itu masih bisa dicari. Jika tak berhasil menaklukan malam, karena lelah yang tak tertanggungkan, atau mata yang sudah tak bisa berkompromi, hening itu juga masih bisa ditemukan. Ini, karena hening tak selalu memihak malam, juga tak harus membersamai sepi. Karena itu, banyak yang setia menemani malam tapi belum beruntung mendapatkan hening. Banyak yang berteman dengan sepi, tapi tak kunjung dekat dengan hening.
Hening, adalah jeda. Jeda untuk mengenal diri sendiri, juga untuk mengenal-Nya lebih dekat. Karena siapa yang tak mengenal dirinya, akan sulit untuk mengenal Tuhan-nya. Hening juga bisa digunakan untuk mengenal kemanusiaan, beserta dinamika hidup dan kehidupan yang melekatinya. Jika punya sedikit jiwa nakal, sesekali boleh juga menggunakan hening untuk mengintip, mengintip kepribadian dan pengalaman orang lain. Tak lain, untuk belajar dari kelebihan dan kekurangan mereka. Karena bisa jadi, hening itu bisa mengusir iri, yang selalu menggoda jika kita melihat kelebihan orang lain. Atau minimal bisa membungkam sombong, yang selalu merayu jika kita berjumpa dengan persimpangan antara kelebihan diri sendiri dan kekurangan orang lain.
Hening, bisa juga digunakan untuk mengumpulkan oksigen, agar bisa bernafas dengan segar di sela lelah. Agar bisa bergerak lebih cepat di kala sibuk. Agar bisa menguapi penat yang bisa kapan saja menggoda. Jika sedang bernasib baik, hening bisa menghasilkan air mata yang menghapus titik-titik noda dalam hati agar tak berbiak layaknya virus, yang akan menggerogoti kebaikan sedikit demi sedikit, lantas menggantinya dengan penyakit hati yang mematikan. Tapi terkadang, hening juga tak menghasilkan apa-apa, selain ketenangan yang tak terdefinisi.
Hening, adalah jejak-jejak pencarian. Untuk mendalami lautan syukur yang baru sekedar terucap manis dari mulut. Juga untuk menjelajahi samudera sabar, yang masih sekedar menjadi penghibur lara yang begitu mudah ditaklukan kesah. Hening, adalah waktu untuk merangkai mimpi, membuat harapan yang menghidupkan, juga eksperimen ide untuk menggapainya. Jika gagal, gunakan saja hening untuk mengevaluasinya. Bisa jadi, hening adalah senyuman sekilas tentang kebodohan kita, yang disusul dengan bara semengat untuk memperbaikinya.
Hening, adalah romantisme antara kita dengan Tuhan. Romantisme untuk untuk bertanya dan menjawab rahasia-rahasia Tuhan tentang kenyataan yang menimpa kita. Monolog, tapi tetap mesra. Jika cinta kita kuat, Tuhan akan memberitahukan rahasiaNya. Bisa jadi melalui pikiran selintas, atau dengan isyarat berupa peristiwa yang terjadi di hadapan mata. Bisa jadi juga itu berupa kejutan dari Tuhan, dan kita tidak menyadarinya kalau itu kejutan cinta dari Tuhan. Bukankah cinta tak harus selalu diketahui. Karenanya, hening, adalah cinta rahasia antara kita dengan kerabat dan sahabat. Bisa jadi cinta itu berupa doa tulus yang selalu terucap, yang menjadi rahasia kita dengan Tuhan saja. Bisa juga cinta itu berbentuk celah waktu untuk memikirkan mereka, jika ada kesempatan, cinta itu bisa saja berwujud hadiah dan kejutan untuk mereka.
Itulah, kenapa aku menyukai episode hening. Mungkin kamu punya pandangan lain tentang hening. Dan itu mungkin lebih baik dari yang aku gambarkan. Seperti yang kujelaskan di atas, aku kesulitan untuk menggambarkannya. Tapi semoga bisa diambil hikmahnya. Sampai jumpa pada tulisan berikutnya.
***
Disekanya air mata yang menetes perlahan dengan jilbabnya. Sore itu, kampus memang sudah sepi. Sehingga tidak seorangpun yang melihatnya menangis. Tapi hatinya masih gerimis, artikel tanpa judul yang baru saja dibacanya di mading mushola, telah membuatnya sadar. Bahwa, selama ini dirinya terjebak pada rutinitas. Kuliah yang silih berganti, agenda organisasi yang menumpuk, ibadah yang hanya mengikatnya pada sekedar targetan penggugur kewajiban. Sedangkan jiwanya begitu lelah, begitu kering.
“Aku harus segera menemukan dan menikmati episode heningku,”
lirihnya dalam hati.
Diorama, Nazrul Anwar

Renungan



Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS
Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR
Jika setiap do’a kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR
Seorang yang dekat dengan ALLAH , bukan berarti tidak ada air mata
Seorang yang TAAT pada ALLAH, bukan berarti tidak ada KEKURANGAN
Seorang yang TEKUN berdo’a, bukan berarti tidak ada masa masa SULIT
Biarlah ALLAH yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena ALLAH TAHU yang tepat untuk memberikan yang TERBAIK
Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEIKHLASAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESABARAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN
Ketika kamu lelah dan merasa kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN
Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAH – HATIAN
Tetap semangat…
Jaga keikhlasan…
Tetap sabar…
Tetap tersenyum…
 Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN
ALLAH menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”…
Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan
MEREKA dibentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA…
Ya Allah, kuatkan kami yang lemah ini untuk Istiqomah di jalan-Mu hingga maut menjemput…
Aameen Ya Rabb…
Rasfiuddin ADK 50

Tulisan: Apakah kamu?


Aku bertanya-tanya dalam lubuk hatiku. Apakah kamu orang yang selama ini telah Tuhan tuliskan untuk ku?
Kamu yang begitu asing dalam hidupku, kamu yang datang penuh harap untuk menjemputku kerumahmu nantinya. Apakah kamu orangnya?
Kamu berjalan dengan segala beban di pundakmu, melangkah penuh kepastian untuk meyakinkan, berharap temukan jawaban. Apakah kamu orangnya?
Kamu adalah seseorang yang tak pernah menjanjikan bahwa aku akan selalu hidup bahagia denganmu, penuh suka dan duka. Namun kamu berkata dengan penuh komitmen bahwa kamu akan menjagaku, akan memastikan bahwa aku akan baik-baik saja ketika nantinya aku bersamamu. Apakah kamu orangnya?
Kamu berkata bahwa hidupmu tidaklah mudah, penuh dengan perjuangan dan kesulitan. Namun kamu berkata bahwa kamu akan memperjuangkan hidupmu dan hidupku, tak pedulikesulitan serta kepedihan apa nantinya yang akan dihadapi, kamu tetap akan mengusahakan segala hal yang terbaik dijalanNya untuk hidup kita dan anak-anak kita nantinya di masa depan. Apakah kamu orangnya?
Kamu berkata bahwa kamu bukan seorang bangsawan maupun seorang yang kaya raya, hanya seorang yang ingin menjemputku untuk melakukan perjalanan bersama-sama, menjadikanku sebuah tujuan untuk bersama pergi berlayar ke surgaNya. Apakah kamu orangnya?
Dan kamu tak peduli jawab apa yang aku berikan nantinya. Karena kamu yakin Tuhan tak pernah menyia-nyiakan usaha hambaNya. Kamu memastikan bahwa jika pada akhirnya bukanlah aku orangnya, Tuhan akan menunjukan jalan versi terbaikNya untukku dan untukmu.
 Lalu aku bertanya-tanya, wahai Tuhan apakah ia yang terbaik untuk ku menurutMu?
Bogor, 4 Febuari 2014
Fikratus Sofa Muzakkiya

repost from http://phyqchan.tumblr.com/ 

Tidak Ada Orang yang Tidak Memiliki Kompetensi


Dari kisah nyata seorang guru. Di suatu sekolah dasar, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan  sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya.

Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya– selalu berpakaian kotor dan acak-acakan. Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas. Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya.

Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini. Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini. Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini.

Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1. Di sana tertulis “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,”

“..Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain….,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini.

Di catatan raport kelas 2 tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan,”

Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas,”

Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan,”

Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini,”

Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada. Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam…
Terbukalah mata dan hati guru itu. Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak:
“Bu guru kerja sampai sore di sekolah, kamu juga bagaimana kalau belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin,”

Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya.

Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh, prepare dan review dia lakukan dibangkunya di kelasnya.

Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi.

Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak.

Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis. “Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.”

Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak. Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5 SD. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.”

Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. Di sana tertulis, “Saya menjadi dokter yang mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,”

Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5 SD.”

Setahun kemudian, kartu pos yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris, “mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya,”

Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagianya.
#Shared via - Ilham Suryadi ADK 50

Berpikir Ulang Ketika Ingin Mengeluh


Begitu banyak hal yang terlewat untuk ditulis, sangat menyanyangkan. Tapi, tak apa daripada tidak menuliskannya sama sekali. 

Akhir-akhir ini, mulai disibukkan dengan aktivitas tahun terakhir perkuliahan, salah satunya program Magang/ Praktek Mengajar. Alhamdulillah, mendapatkan tempat terbaik yang sudah menjadi kehendak-Nya, yaitu di SMPN 8 Kota Bogor. Awalnya sedikit mengeluh, karena jarak yang lumayan jauh untuk di tempuh. Atau bayangan kemacetan yang hampir tiap hari menghantui, membuat diri kadang tak yakin bisa tepat waktu sampai di sekolah. 

Awal-awal pertemuan di sekolah, banyak hal yang membuatku sering mengeluh, tentang banyak hal. 
Tetapi, dari hari ke hari, Allah pertemukan aku dengan teman-teman baru yang banyak memberi hikmah kehidupan. 

Next time, I'll tell story about them.. Insyaa Allah

Senin, 05 Januari 2015


Memerah diterpa sinar mentari..
Terjebak dilintasan waktu…
Ingin rasanya menampikkan kenyataan..
Ingin rasanya mengalihkan peristiwa..
Tapi ku tersadar oleh waktu..
Terlanjur menyukai, atau bahkan mungkin mencintai?
Makanya.. jangan bermain api kalau tidak ingin terbakar, agar tidak memerah sampai tak tentu arah..
Wahai kau.. yang tersenyum manis di benakku, berhentilah…
Pororo
Senin, 05 Januari 2015 pukul 12.35